Stanbuku.com - Ada untuk dirimu

Kura-Kura Berjanggut

Oleh:

Rp 230.000 Rp 207.000

KURA-KURA BERJANGGUT menyerap kita ke dalam petualangan-petualangan menakjubkan yang melibatkan pertempuran di laut, muslihat di antara para pengkhianat, adu gajah sampai mati, nahkhoda Zeeland gila, ulat merica, agama yang memuja Kerang yang lebih tua ketimbang alam semesta, wangsa Pemburu Tuhan, penyelewengan perasaan penderita kusta, para pembunuh yang menumpang hidup di negatif foto, pertarungan burung tiung pencicip makanan raja melawan koki asal Lombardia, dan sufi Hamzah Fansuri yang diperebutkan Tarekat Burung Pingai dan Pertapa 33 Tasbih sekaligus ditakuti Anak Haram Lamuri.

Kura-Kura Berjanggut – Sebelumnya aku beberapa kali mengatakan kepada Lev bahwa aku akan menggunakan pembunuh bayaran untuk menghabisi Anak Haram Lamuri. Lev menyebut nama Selai Jeruk. Dia pernah menghitung uang Selai Jeruk yang dipersembahkan untuk Sjarif. Kata Lev, betina tua itu agak menyebalkan. Ketika kami menginjakkan kaki di Lamu, sementara Lev berlari menuju rumah bordil, orang pertama yang aku cari adalah Selai Jeruk yang menurut Lev biasa berkokok setiap pukul dua pagi di salah satu kedai minum. Dia mengurus dan mengelola beberapa kelompok pembunuh bayaran di rantau itu.

Ada seorang pedagang Arab yang waktu itu sedang menunggu bersamaku. Dia bertanya, apakah aku bermaksud membunuh orang yang sama. Pertanyaan paling tolol yang pernah kudengar! Aku balik bertanya, bajingan mana yang mau dikirimnya ke neraka. Dia menjelaskan ciri-ciri orang tersebut serta di mana musuhnya itu biasa menghabiskan waktu bersama para pelacurnya. Aku bilang bukan. Musuhku dan para pelacurnya berada di Bawah Angin, terpaut ribuan mil dari Lamu, dan dia seorang sultan.

“Sayang sekali,” katanya, “mestinya kita bisa patungan karena biaya bajingan itu,” katanya, menunjuk si penghubung yang sedang tertidur di mejanya, “mahal sekali.”

Aku mengangkat tangan dan memasang mimik wajah kecewa.

Dia memperkenalkan diri: Omar. Tentu saja semua bajingan yang sedang berurusan dengan Selai Jeruk menyebut nama palsu. Tapi, Omar jenis bajingan yang ramah. Mengetahui aku berasal dari Bawah Angin, dia tanpa kumaui malah bercerita tentang seseorang bernama Savaric dari Bristol, petualang berdarah Inggris yang lahir di Madras. Perang saudara yang berkecamuk di Inggris menyeret Savaric ke tanah leluhur yang belum pernah sekalipun diinjaknya. Malangnya, dia bertempur di pihak yang kalah. Setelah sekian lama menjadi buronan, kematian orang tuanya dan warisan yang mereka tinggalkan memanggilnya kembali ke tanah kelahirannya di Anak Bemua. Tahu cara menghambur-hamburkan warisan orang tuanya, Savaric membeli sebuah galiung tua dan memulai lagi petualangannya. Tujuannya adalah Bawah Angin, memburu beberapa benda-benda ajaib, salah satunya kain tenun Sansista Kallah peninggalan Gegar Alam, Raja Minangkabau.

“Aku baru mendengar nama kain itu.”

“Kain itu sangat terkenal di kalangan penjual kain. Savaric mungkin mendengarnya dari para tukang tenun yang bekerja di kilang tenun ayahnya.”

“Pasti mutunya bagus sekali,” kataku, mulai waspada karena mungkin sebentar lagi Omar akan membujukku berdagang kain setelah gagal mengajakku berkongsi menyewa pembunuh bayaran.

“Sementara kita saat ini sedang sedang menunggu si pemalas itu berkokok,” ujar Omar, menunjuk si penghubung yang masih tertidur pulas di mejanya, “kain tenun itu sedang menenun dirinya sendiri sebagaimana kain itu telah memulainya sebelum dunia diciptakan, dan ketika tenunan itu nantinya selesai, dunia diperkirakan sudah kiamat.”

“Ajaib,” kataku. “Savaric akhirnya menemukan kain itu?”

“Tidak,” jawab Omar. “Belakangan dia menjadi seorang Raja di Serawak. Orang-orang di Bawah Angin menjulukinya Rajah Putih.”

“Kau sepertinya kenal dekat dengannya?’

“Dengan ayahnya,” jawab Omar. “Ayahnya pernah mengeluh kepadaku. Dia bilang bahwa Savaric tidak tertarik untuk menjadi pedagang seperti dirinya. Terbukti, kekhawatirannya sama sekali tidak beralasan. Setelah lama menghilang, suatu hari Savaric mengejutkan para pedagang di Jazirah Selatan. Dari Serawak dia mengirim dua kapal batu hitam. Batu hitam paling baik yang pernah beredar di dunia. Halus, mengkilat, dan berwarna terang. Tapi hanya dua tahun, setelah itu lenyap sebagaimana batu itu bertemu api.”

“Menarik sekali,” kataku.

Omar sepertinya punya banyak cerita menarik, tapi tidak lama kemudian Selai Jeruk, perempuan yang kami tunggu-tunggu itu, berkokok.

“Aku duluan?” kata Omar.

Aku mempersilakannya. Mungkin dia sudah sangat terdesak.

Dari Bab Samudra Ilahi, Bagian I: Buku Si Ujud

Berat1.1 kg
Desain Sampul

Jumlah Halaman

960

Jenis Sampul

Penerbit

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama mengulas “Kura-Kura Berjanggut”

Kategori: , , Oleh:
Memperbarui…
  • Tidak ada produk dalam keranjang.